Pembangunan: Masyarakat Desa VS Industrialisasi

industrialisasiDesa sebagai perwujudan kehidupan masyarakat adalah sebuah peradaban yang natural dan syarat nilai. Kehidupan yang tercermin dalam masayrakat desa selalu mengindahkan batasan-batasan moral. Gotong royong, tenggang rasa, dan harmoniasi adalah hal yang begitu identik dengan interaksi sosial di dalamya. Namun di sisi lain kemajuan teknologi juga menjadi senjata simalakama akan lunturnya nilai-nilai kemurnian dalam kehidupan sosial. Desa sebagai sebuah entitas kepribadian bangsa indonesiapun tidak luput dari gelombang ini. Meskipun tidak bisa dielakkan bahwa gelombang kemajuan era ilmu pengetahuan membawa dampak yang positif.

Desa yang merupakan wajah keaslian kepribadian bangsai Indonesia, kini mulai memudar dan tergerus oleh wajah peradaban yang cenderung kapitalistik dan indiviualistik. Padahal jika kita meneggok sejarah panjang bangsa ini, kehidupan desa adalah perwujudan makna demokrasi dan nilai bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Yudhi Latief dalam bukunya Negara Paripurna, menyatakan bahwa demokrasi yang dalam makna hakekatnya tertuang dalam kehidupan guyub rukun masyarakat desa yakni semangat “gotong royong”. Dan itulah sebuah panggung mencerinkan keharmonisan perbedaan sebagai sebuah model peradaban.

Pada masyarakat desa, kita acap kali disuguhkan pada pengambilan keputusan dengan mengedepankan semangat gotong royong dan musyawarah mufakat melalui forum-forum masyarakat desa. Inilah yang kiranya perlu untuk kembali kita gali dalam mewujudkan semangat demokrasi khas dan nilai sosial versi khas bangsa Indonesia. Meskipun secara teori demokrasi adalah sebuah konsepsi sistem yang dilahirkan pada masa Yunani klasik. Tetapi masyarakat desa, memiki patologi sosial ini yang dilahirkan dari habitus dan interaksi sosial  kehidupan desa.

Gelombang Industrialisasi
Gelombang perubahan yang belum selesai betul pada akhir abad ke-17, ketika revolusi industri pecah di Eropa, telah membawa gelombang perubahan besar di planet ini. Proses baru ini muncul dan bergerak jauh lebih cepat ke seluruh penjuru bangsa dan benua. Politik gelombang ini seperti yang ditegaskan oleh Alvin Tofler, telah membawa peradaban ini memasuki gelombang yang olehnya disebut sebagai “future shock”. Benturan yang menyebabkan kekacauan dalam kosakata politik tradisional dan menjadikannya sangat sulit membedakan antara kaum reaksioner dengan progresif, anatara kawan dan lawan. Dimana batas-batas antara kemerdekaan dan kebebasan menjadi absurd. (Tofler:2002) Demokrasi sering dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas yang pada akhirnya menjadi permisif. Kolektifitas sebagai semangat gotong royong menjadi kolektivisme yang kecenderungan ke arah anarkisme kolektif atas nama golombang. Bahkan makna kritis dan pesimispun tidak kentara wujudnya.

Menjadi keniscayaan lahirnya revolusi industri, menjadi arus baru yang membawa zaman ini menuju zaman tanpa batas “Globalisasi”. Dimana batas-batas masyarakat tidak lagi ada atau kita sebut sebagai masyarakat transparan”. Yaitu masyarakat yang hidup pada era mekanik, dengan hukum rimba sebagai konstitusinya. Masyarakat terbawa kedalam dunia serba instan, dan bagi yang tak mampu bertahan akan membawanya ke arah menjadi masyarakat konsumeristik sebagai trend gaya hidup atas ketakberdayaan.

Disinilah, yang kemudian menjadi sebuah peradaban yang tidak lagi mengenal batas-batas moralitas. Seperti yang dikatakan di atas, semuanya serba permisif tanpa mempedulikan mana itu baik dan tidak. Masyarakat kita terjebak dengan euforia teknologi yang pada akhirnya menjadikan kita sebagai manusia yang berasio perkakas dalam bahasa Immanual Kant. Yakni subjek yang terjebak oleh teknologi, yang kita ciptakan tanpa mampu mengendalikan, mengkritisi, ataupun mengembangkanya. Proses-proses inilah yang kemudian membawa ke arah dehumanisasi. Jenis masnusia seperti inilah yang sudah tidak lagi menjadi tuan bagi dirinya sendiri sebagai subjek yang utuh. Jenis tubuhnya dan juga pola pikirnya terjungkir-balik menjadi subjek mati arus industrialisasi.

Problematika industrialisasi dan Proses Dehumanisasi
Mungkin ada benarnya apa yang pernah dikatakan Francis Fukuyama dalam bukunya yang kontroversial “The End of History and The Last Man”. Bahwa sejarah telah berakhir karena demokrasi liberal ala barat telah mengungguli komunisme, yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet. Ini bisa kita pahami karena satu-satunya ideologi yang banyak memberikan pengaruh dunia hari ini adalah ideologi Blok Barat tersebut. Demokrasi liberal, akhirnya menjadi bentuk terkahir dari pemerintahan manusia hari ini. (Baca: Fukuyama)

Dengan tidak adanya ideologi tandingan bagi demokrasi liberal, maka sangat mudah bagi penganutnya untuk menyebarkan pengaruh ke luar komunitasnya. Kemudahan barat dalam menyebarkan pengaruh liberalisasi ke luar komunitasnya ini terbukti saat masyarakat dunia banyak memberikan apresiasi terhadap modernisasi yang melahirkan globalisme, developmentalisme, industrialisisasi. (Karim: 2009:18). Dan tidak dapat dipungkiri pula, gelombang ini secara pasti merangsek ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat desa. Hari ini, kita sudah jarang sekali menjumpai semangat-semangat yang dahulu menajadi habitus masyarakat desa. Yakni nilai-nilai tenggang rasa, toleransi dan gotong royong.

Inkoherensi kehidupan yang mencolok tercermin dalam disintegrasi kepribadian. Manusia yang semula merdeka, dan menjadi pusat dari segala sesuatu, kini telah diturunkan derajadnya menjadi tak lebih sebagai bagian dari mesin-mesin raksasa teknologi. Karena proses-proses inilah, maka pandangan tentang manusia menjadi tereduksi. Nilai manusia kini terdegradasi oleh proses bekerjanya teknologi. Manusia kini menjadi bagian logika produksi industrialisasi, ia hanya menjadi elemen atomisasi teknologi. Manusia pada era sekarang (modern dan industri) terjerumus pada gelombang pragmatisme dan terbelenggu oleh proses teknologi. Disinilah manusia teralienasi dari nilainya, kerjanya sendiri, hasil kerjanya, sesamannya dan masyarakatnya.

Dalam masyarakat kapitalistik, Menurut Kunto Wijoyo dalam bukunya Paradigma Islam “intepretasi untuk aksi (1991), manusia hanya menjadi elemen pasar. Dalam masyarakat seperti itu, kualitas kerja manusia, dan bahkan kualitas kemanusianya sendiri, ditentukan oleh pasar. Dengan demikian manusia menjadi bual-bualan dari kekuatan pasar. Malapetaka kemanusiaan dalam sistem kapitalistik ini ternyata tak lebih ringan dari malapetaka yang dihadapi manusia dalam sistem komunis. Dalam masyarakat komunis, manusia menjadi elemen birokrasi, begitu juga dengan masyarakat kapitalistik yang tidak ubahnya manusia hanya menjadi elemen pasar.

Desa sebagai Model Pembanguan Masyarakat
Tulis Kunto Wijoyo dalam makalahnya berjudul “Peran Pesantren dalam Pembangunan Desa”. Ada beberapa kecenderungan baru dalam pemikiran konsep Pembangunan. Diantaranya adalah konsep-konsep pembangunan “people-contered develompment”, institution develompment”, self-reliance” (kemandirian), dan sustainability” (kelestarian). Selain hal ini kita juga bisa menambahkan model “value-oriented development”. Inilah model-model yang bisa kita terapkan dalam melakukan pembangunan masyarakat, yang pernah dipraktekan sebagai model pembangunan masyarakat desa. Sebuah langkah yang konstruksi dan antisipasi tergerusnya nilai atas gelombang industrialisasi yang akhir-akhir ini telah mulai merangsek kepedesaan.

David C. Korten dan Rudi Klauss, sebagaimana dikutip Kunto Wijoyo, memberi titik tekan pada arah “people contered development”, sebagai pendekatan yang mementingkan inisiatif kreatif dari masyarakat sebagai sumber utama pembangunan dan menekankan kesejahteraan marterial dan spiritual masyarakat sebagai tujuan dari proses pembangunan. Pendekatan ini akan membedakan pada pendekatan pembanguna era industrialisasi yang menekankan “production-centered development”. Paradigma pembangunan yang orientasinya semata-mata untuk mengejar produksi untuk memenuhi kebutuhan seperti yang dapat kita lihat pada masyarakat kapitalistik. Nilai pembangunan yang kemudian mengabaikan kaidah-kaidah dari peran serta, kesamaan, dan kelestarian dan cenderung eksploitatif.

Indonesia sebagai masyarakat yang pada awalnya memiliki habitus tenggang rasa dan semangat gotong royong. Tidak perlu malu untuk “people oriented” sebagai warisan masyarakat desa, yang meletakan manusia dan lingkungan sebagai variabel utama, tempat perencanaan pembangunan berangkat. Tampaknya pembangunan people oriented inilah, bisa kita terapkan sebagai model pembanguan di era industrialisasi, yang terbukti gagal dalam melakukan pendekatan pembangunan yang humanis. Pendekatan pembangunan ini juga pernah diterapkan oleh pesantren dalam melakukan pembangunan desa. (Baca; Pesantren).

Dalam model lain yang bisa kita lihat dari model pembangun desa adalah model kemandirian. Konsep kemandirian merupakan sebuah model yang dilakukan masyarakat desa dalam mengorganiasir diri dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Dimana masyarakat secara sadar melakukan hungungan saling tenggang rasa dan tolong menolong sesama sebagai kelompok masyarakat. Hal lain yang bisa dilihat sebagai model pembangunan desa adalah pembangunan value oriented. Konsep pembangunan ini dekat dengan pemikiran Weberian tentang perlunya etika. Pembangunan yang berorientasi pada nilai, yakni sebuah aktifitas-aktifitas masyarakat atas dorongan nilai atau yang mendapat pembenaran atas khasanah yang hidup dalam masyarakat. (Wijoyo: 1991: 149-150)

Inilah model-model pembangunan yang bisa kita lihat dari pola interaksi hubungan sosial masyarakat desa yang kuat akan nilainya. Dalam gelombang dehumanisasi, akibat ideologi yang ditelorkan peradaban modern, sekarang apa salahnya model ini kita terapkan kembali sembari melakukan elaborasi nilai yang terkadung dengan perkembangan zaman yang ada. Sehingga titik balik kemajuan teknologi yang membawa bencana kemanusiaanpun bisa menjadi penyokong masyarakat yang beradab. Desa adalah sumber kreatif begitu sahabatku (Husni Mubarok) biasa berceloteh dalam guyonan di ruang-ruang santai. Wallahu’alam.


Seorang putra dari desa yang menapakkan kakinya di Kota Budaya 'Solo The Spirit of Java' pada 2006, untuk belajar di Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Untuk menampung hasrat mencari dan mencari, waktunya dilekatkan dalam ruang-ruang diskusi bersama para pencari kebenaran lain, sembari melepaskannya lewat coretan-coretan liar dan teriakan-teriakan; berharap ke depan akan menjadi gelombang yang menghantam kemunafikan dan ketidakadilan. Berpikir dan Bertempur-Tinta Proses-Memaknai Proses Hidup.

No comments.

Leave a Reply